Memori Tarawih di Musala Kanjeng Jimat

IMG_20140711_195156 Sudah menjadi rutinitas bagi para pemeluk agama islam untuk melaksanakan ibadah sholat tarawih berjamaah di masjid ataupun mushola. Sebagian dari mereka bahkan memanfaatkan momen ini untuk bersafari ramadhan dari satu masjid ke masjid yang lain. Umumnya, masjid yang menjadi tujuan safari yaitu masjid-masjid yang megah dan besar yang menjadi ikon suatu kota dengan jamaahnya yang banyak pula.Sehingga terkadang membuat suasana menjadi agak ramai karena banyak para jamaah yang membawa anak-anaknya ke masjid. Hal ini tentunya sedikit mengganggu kekhusukan jamaah lain yang melaksanakan sholat.

a Jika hal tersebut yang Anda alami, maka ada tempat ibadah alternatif yang dapat dikunjungi. Letaknya berada di desa Tanjungsari, Kecamatan Pacitan. Sebuah mushola yang dibangun di puncak bukit yang mana bukit tersebut merupakan komplek pemakaman umum bernama Pemakaman Giri Sampurno. Lokasi Pemakaman Giri Sampurno hanya berjarak sekitar 700 meter arah utara dari kantor pemerintah kabupaten Pacitan. Di kompleks pemakaman ini terdapat makam Bupati Pacitan ke-6, Joyoniman atau yang dijuluki Kanjeng Jimat. Beliau juga merupakan tokoh penyebaran agama islam di Pacitan. Di komplek pemakaman ini juga terdapat makam bupati Pacitan periode 2005-2010 yaitu H.Sujono.

IMG_20140712_194132 Di puncak bukit di samping makam Kanjeng Jimat di bangun sebuah mushola yang sehari-harinya digunakan untuk beribadah bagi para peziarah. Di bulan ramadhan seperti ini juga di manfaatkan untuk menyelenggarakan sholat tarawih berjamaah. Lokasinya yang berada di puncak bukit dan jauh dari perkampungan warga membuat suasana di sana sunyi sehingga memberi kenyamanan tersendiri saat beribadah. Sudah dua tahun terakhir ini komplek pemakaman di beri penerangan sehingga memudahkan para jamaah yang ingin sholat di mushola Kanjeng Jimat.IMG_20140711_195120 Karena lokasinya berada di kompleks pemakaman maka bagi jamaah yang ingin sholat di mushola ini harus melewati area pemakaman yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya jajaran batu nisan yang tampak. Untuk menuju puncak bukitpun harus di tempuh dengan berjalan kaki melewati anak tangga sejauh ratusan meter. Karena kendaraan hanya dapat menjangkau sampai di sentral parkirnya saja, dan dari tempat parkir menuju puncak bukit masih berjara sekita 200 meter. Meski lelah plus harus melewati daerah mistis namun banyak jamaah yang hadi di mushola ini. So, bagi para traveler bulan ramadhan, berani coba?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s